Sabtu, 07 Mei 2011

PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR NORMAL


Pemeriksaan fisik merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas dan mendeteksi adanya penyimpangan dari normal.
Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan. Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan, melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Berbagai bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap faktor-faktor yang memperlemah kondisi seorang ibu hamil perlu diprioritaskan, seperti gizi yang rendah, anemia, dekatnya jarak antar kehamilan, dan buruknya hygiene. Disamping itu perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan prenatal yang memadai dan penanggulangan faktor-faktor yang menyebabkan kematian perinatal yang meliputi:
1.      Perdarahan
2.      Hipertensi
3.      Infeksi
4.      Kelahiran Preterm/ bayi berat lahir rendah
5.      Asfiksia
6.      Hipotermia
Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian. Misalnya sebagai akibat hipotermi pada bayi baru lahir dapat terjadi cold stress yang selanjutnya dapat menyebabkan hipoksemia atau hipoglikemia dan mengakibatkan kerusakan otak. Akibat selanjutnya adalah perdarahan otak, syok, beberapa bagian tubuh mengeras, dan keterlambatan tumbuh kembang. Contoh lain misalnya kurang baiknya pembersihan jalan napas waktu lahir dapat menyebabkan masuknya cairan lambung ke dalam paru-paru yang mengakibatkan kesulitan pernapasan, kekurangan zat asam, dan apabila hal ini berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan perdarahan otak, kerusakan otak dan kemudian keterlambatan tumbuh kembang. Tak kurang penting adalah pencegahan terhadap infeksi yang dapat terjadi melalui tali pusat pada waktu pemotongan tali pusat, melalui mata, melalui telinga, pada waktu persalinan atau pada waktu memandikan/ membersihkan bayi dengan bahan, atau cairan atau alat yang kurang bersih.
Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal merupakan periode yang paling kritis. Pencegahan asfiksia, mempertahankan suhu tubuh bayi, terutama pada bayi berat lahir rendah, pemberian air susu ibu (ASI) dalam usaha menurunkan angka kematian selama diare, pencegahan terhadap infeksi, pemantauan kenaikan berat badan dan stimulasi psikologis merupakan tugas pokok bagi pemantau kesehatan bayi dan anak. Neonatus pada minggu-minggu pertama sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu pada waktu hamil dan melahirkan. Managemen yang baik pada waktu masih dalam kandungan, selama persalinan, segera setelah dilahirkan, dan pemantaun pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya akan menghasilkan bayi yang sehat.

1.      Pengkajian Pertama Pada Bayi Baru Lahir
Pengkajian ini dilakukan di kamar bersalin setelah bayi lahir dan setelah dilakukan pembersihan jalan nafas/resusitasi, pembersihan badan bayi, dan perawatan tali pusat. Bayi ditempatkan di atas tempat tidur yang hangat. Maksud pemeriksaan ini adalah untuk mengenal/menemukan kelainan yang perlu mendapatkan tindakan segera dan kelainan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan kelahiran, misalnya; bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes melitus, eklamsia berat dan lain-lain, biasanya akan mengakibatkan kelainan bawaan pada bayi. Oleh karena itu, pemeriksaan pertama pada bayi baru lahir ini harus segera dilakukan. Hal ini ditujukan untuk menetapkan keadaan bayi dan untuk menetapkan apakah seorang bayi dapat dirawat gabung atau di tempat khusus. Dengan pemeriksaan pertama ini juga bisa menentukan pemeriksaan dan terapi selanjutnya.

2.      Tujuan Pengkajian Fisik Pada Bayi Baru Lahir
Untuk mendeteksi kelainan-kelainan. Pemeriksaan awal pada bayi baru lahir harus dilakukan sesegera mungkin sesudah persalinan untuk mendeteksi kelainan-kelainan dan menegakkan diagnosa untuk persalinan yang beresiko tinggi. Pemeriksaan hatrus difokuskan pada anomali kegenital dan masalah-masalah patofisiologi yang dapat mengganggu adaptasi kardiopulmonal dan metabolik normal pada kehidupan extra uteri. Pemeriksaan dilakukan lebih rinci dan dilakukan dalam 24 jam setelah bayi lahir.
Untuk mendeteksi segera kelainan dan dapat menjelaskan pada keluarga.
Apabila ditemukan kelainan pada bayi maka petugas harus dapat menjelaskan kepada keluarga, karena apabila keluarga menemukannya kemudian hari, akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan menganggap dokter atau petugas tidak bisa mendeteksi kelainan pada bayinya.

3.      Penilaian Klinik
Tujuannya adalah mengetahui derajat vitalitas dan mengukur reaksi bayi terhadap tindakan resusitasi. Derajat vitalitas bayi adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat esensial dan kompleks untuk berlangsungnya kelangsungan hidup bayi seperti pernapasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks- refleks primitif seperti menghisap dan mencari puting susu. Pada saat kelahiran apabila bayi gagal menunjukan reaksi vital, maka akan terjadi penurunan denyut jantung secara cepat, tubuh menjadi biru atau pucat dan refleks-refleks melemah sampai menghilang. Bila tidak segera ditangani secara tepat, cepat dan benar, keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan mungkin meninggal pada beberapa bayi mungkin pulih kembali secara spontan dalam 10-30 menit sesudah lahir, tetapi bayi ini tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat dikemudian hari.

4.      Langkah-Langkah Dalam Melakukan Pengkajian Fisik Pada Bayi Baru Lahir
F Pertama, seorang petugas mengkaji keadaan umum bayi; melihat cacat bawaan yang jelas tampak seperti hidrosefal, mikrosefali, anensefali, keadaan gizi dan maturitas, aktivitas tangis, warna kulit, kulit kering/mengelupas, vernik caseosa, kelainan kulit karena fravina lahir, toksikum, tanda-tanda metonium, dan sikap bayi tidur.
F Langkah kedua, pertugas melakukan pemerikasaan pada kulit. Ketidakstabilan vasomotor dan kelambatan sirkulasi perifer ditampakan oleh warna merah tua atau biru keunguan pada bayi yang menangis. Yang warnanya sangat gelap bila penutupan gloris mendahului tangisan yang kuat dan oleh sianosis yang tidak berbahaya.
F Pada pemeriksaan kepala bisa dilihat; besar, bentuk, molding, sutura tertutup/melebar, kaput suksedanium, hematoma – sefaldan karnio tabes.
F Pada pemeriksaan telinga dapat mengetahui kelainan daun/bentuk telinga.
F Pada pemeriksaan mata yang bisa dinilai perdarahan sukonjugtiva, mata yang menonjol, katarak, dan lain-lain.
F Mulut dapat menilai apakah bayi; labioskisis, labioynatopalatoskisis, tooth-buds, dan lain-lain.
F Leher; hematoma, duktis tirolusus, higromakoli.
F Dada; bentuk, pembesaran buah dada, pernafasan retraksi interkostal, sifoid, merintih, pernafasan cuping hidung, bunyi paru.
F Jantung; pulsasi, frekuensi bunyi jantung, kelainan bunyi jantung.
F Abdomen; membuncit, (pembesaran hati, limpa, tumor, asites), skafoid (kemungkinan bayi mengalami hernia diafragmatika atau atresia esofagis tanpa fistula), tali pusat berdarah, jumlah pembuluh darah tali pusat, warna dan besar tali pusat, hernia di pusat atau di selangkang.
F Alat kelamin; tanda-tanda hematoma karena letak sungsang, testis belum turun, fisnosis, adanya perdarahan/lendir dari vagina, besar dan bentuk klitoris dan labia minora, atresia ani.
F Tulang punggung; spina bifida, pilonidal sinus dan dumple.
F Anggota gerak; fokomeria, sindaktili, polidaktili, fraktor, paralisis talipes dan lain-lain.
F Keadaan neuramuskular; refleks moro, refleks genggam, refleks rootingdan sebagainya: tonus otot, tremor.
F Pemeriksaan lain-lain; mekonium harus keluar dalam 24 jam sesudah lahir, bila tidak harus waspada terhadap atrersia ani/obstruksi usus. Urine harus ada juga pada 24 jam. Bila tidak ada harus diperhatikan kemungkinan obstruksi saluran kencing.

Kepala Janin Dan Ukuran-Ukurannya.
Bagian yang paling keras dan besar dari janin adalah kepala janin. Posisi dan besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan. Kepala juga sering mengalami cedera, sehingga dapat membahayakan hidup. Tengkorak bayi mungkin bertumpangan (molded) terutama bila bayi adalah anak pertama dan kepala telah berfiksasi beberapa waktu. Tulang parietal cenderung menumpangi tulang oksipital dan frontal. Garis sutura dan ukuran serta tekanan kontanela anterior dan posterior harus ditentukan secara digital.

Kepala janin terdiri dari:
a)      Bagian muka
§  Tulang hidung (os nasake)Tulang pipi (oszygomaticum) ada dua buah.
§  Tulang rahang atas (os maxilare)
§  Tulang rahang bawah (os mandibularis)

b)      Bagian tengkorak
Bagian ini yang terpenting pada persalinan karena biasanya bagian tengkoraklah yang paling depan. Yang membentuk bagian tengkorak adalah:
§  Tulang dahi (os frontale) 2 buah.
§  Tulang ubun-ubun (os parletal) 2 buah.
§  Tulang pelipis (os temporale) 2 buah.
§  Tulang belakang kepala (os occipidale) 1 buah.

Yang penting dalam persalinan yaitu 7 tulang tersebut di atas. Diantara tulang-tulang tersebut terdapat sela tengkorak yang disebut sutura, yang mana ini membantu dalam persalinan.
Kalau kepala anak tertekan pada waktu kepala bergeser/bergerak di bawah kedua tulang ubun-ubun, ini salah satu tanda untuk mengenal tulang belakang kepala pada pemeriksan dalam. Sutura dan ubun-ubun penting diketahui untuk menetukan presentasi/bagian terendah dari kepala anak dalam jalan lahir.

Macam-macam sutura yang kita kenal:
1.      Sutura Sagitalis (sela panah) antara kedua ossa parletalis.
2.      Sutura Coronaria (sela mahkota) antara os frontale dan os parletal.
3.      Sutura Lambdoldea antara os occipitale dan kedua ossa parletal.
4.      Sutura Frontalis antara os frontale kiri kanan.

Ubun-ubun besar (fonticulus mayor) merupakan lubang dalam tulang tengkorak yang berbentuk segi empat dan hanya tertutup oleh selaput. Ubun-ubun besar terdapat pasa pertemuan antara 4 sutura:
1.      Sutura Sagitalis 1
2.      Sutura Coronaria 2
3.      Sutura Frontale 1

Bentuknya:
sudut depan yang runcing menunjukan bagian muka anak.
Susut belakang adalah tumpul. Ubun-ubun kecil (frontikulus minor)
Ubun-ubun kecil terdiri dari 3 sutura:
§  Sutura Lambdoldea 2 buah
§  Sutura Sagitalis 1 buah

Tulang ubun-ubun ini baru akan tertutup nanti pada anak usia 1,5 – 2 tahun.

Ukuran-ukuran kepala bayi:
A.    Ukuran muka belakang:
1.      Diameter sub occipitalus-bregmatica dari foramen magnum ke ubun-ubun besar 29,5 cm.
2.      Diameter sub occipito frontalis: (dari foramen magnum ke pangkal hidung).11 cm.
3.      Diameter fronto occipitalis (dar pangkal hidung ke titik yang terjadi pada belakang kepala. 12 cm.
4.      Diameter mento occipitalis (dari dagu ke titik yang terjauh pada belakang kepala).  13,5 bertugas.
5.      Diameter sub mento bragmatika (dari bawah dagu ke ubun-ubun besar)  9 cm.

B.     Ukuran lingkaran:
1.      Circumferentia sub occiput bregmatika. (lingkaran kecil kepala) 31 cm.
2.      Circumferentia fronto occipitalis (lingkaran sedang kepala)  34 cm.
3. Circumferentia mento occipitalis (lingkaran besar kepala). 35 cm.

Prinsip pemeriksaan bayi baru lahir:
ü  Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
ü  Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
ü  Pastikan pencahayaan baik
ü  Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat
ü  Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh

5.      Prosedur
  1. Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan pemeriksaan
  2. Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik, faktor lingkungan, sosial,faktor ibu (maternal),faktor perinatal, intranatal, dan neonatal
  3. Susunalat secara ergonomis
  4. Cuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir, keringkan dengan handuk bersih
  5. Memakai sarung tangan
  6. Letakkan bayi pada tempat yang rata
Pengukuran Anthopometri
  1. Penimbangan berat badan.
Letakkan kain atau kertas pelindung dan atur skala penimbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus bayi
  1. Pengukuran panjang badan
  2. Letakkan bayi di tempat yang datar.
Ukur panjang badan dari kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan. Alat ukur harus terbuat dari Ukur lingkar kepala. Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari kepala kembali lagi ke dahi.
  1. Ukur lingkar dada. ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu)

6.      Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir, ialah:      
ü  Membersihkan jalan nafas
ü  Memotong dan merawat tali pusat
ü  Mempertahankan suhu tubuh bayi
ü  Identifikasi
ü  Pencegahan infeksi
Pembersihan jalan napas, perawatan tali pusat, perawatan mata dan identifikasi adalah rutin segera dilakukan, kecuali bayi dalam keadaan kritis, dan dokter memberi intruksi khusus.
Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan napas dengan cara sebagai berikut:
ü  Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat
ü  Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang
ü  Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril
ü  Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi segera menangis.
¯  Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan otak . Sangat penting membersihkan jalan napas, sehingga upaya bayi bernapas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (Masuknya lendir ke paru-paru).
F Alat pengisap lendir mulut (DeLee) atau alat pengisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selngnya harus telah siap di tempat.
F Segera lakukan usaha mengisap mulut dan hidung
F Petugas harus memantau dan mencatat usaha napas yang pertama
F Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan
¯  Bantuan untuk memulai pernapasan mungkin diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat
F Dokter atau tenaga medis lain hendaknya melakukan pemompaan bila setelah 1 menit bayi tak bernapas.

Memotong dan Merawat Tali Pusat
Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu menemukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong untuk memudahan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi perdarahan dapat dibuat ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% atau podivon iodin 10% serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari dan atau setiap tali basah atau kotor.
Sebelum memotong tali pusat, dipastikan  bahwa tali pusat telah di klem dengan baik, untuk mencegah terjadinya perdarahan. Membungkus ujung potongan tali pusat adalah kerja tambahan.
ü  Alat pengikat tali pusat tau klem harus selalu siap tersedia di ambulans, di kamar bersalin, ruang penerima bayi dan ruang perawatan bayi.
ü  Gunting steril juga siap
ü  Pantau kemungkinan terjadinya perdarahan dari tali pusat.

Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus di catat.

Memberi Vitamin K
Kejadian perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir dilaporkan cukup tinggi, berkisar 0,25-0,5%. Untuk ,mencegah terjadinya perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5-1 mg I.M.

Memberi Obat tetes/ salep mata
Dibberapa negara perawatan mata bayi baru lahir secara hukum diharuskan untuk mencegah terjadinya oftalmia neonatorum. Di daerah mana prevalensi gonorea tinggi, setiap bayi baru lahir perlu diberi salep mata sesudah 5 jam bayi lahir. Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual).
ü  Perawatan mata harus dikerjakan segera. Tindakan ini dapat dikerjakan setelah bayi selesai dengan perawatan tali pusat dan harus dicatat di dalam status termasuk obat apa yang digunakan.
ü  Yang lazim dipakai adalah larutan Perak Nitrat atau Neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah bayi lahir.
¯  Peralatan untuk perawatan mata harus siap diruang penerimaan/ persali nan, ruang rawat bayi, termasuk:
·         Obat-obatan
·         Perlengkapan berisi:
a.       Alat tetes mata
b.      Gelas obat kecil steril dan kapas
·         Cairan NaCl untuk irigasi mata (bila yang dipakai Perak Nitrat)
¯  Perubahan warna dari cairan penetes baru telah terjadi perubahan kimia, sehingga tak dapat dipakai lagi.
·         Petugas hendaknya secara rutin meneliti terjadinya perubahan warna pada cairan obat yang dipakai atau adanya kristal yang timbul yang mungkin terjadi apabila suhu ruangan melebih 34°C.

Identifikasi bayi
Apabila bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinanya mungkin lebih dari satu persalinan, maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus tetap di tempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
ü  Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia ditempat penerimaan pasien, di kamar bersalin, dan di ruang rawat bayi.
ü  Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah melukai, tidak mudah sibuk , dan tidak mudah lepas.
ü  Pada alat/gelang identifikasi harus tercantum:

§  Nama,(bayi, nyonya)
§  Tanggal lahir,
§  Nomor bayi,
§  Jenis kelamin,
§  Unit,
§  Nama lengkap ibu


ü  Di setiap tempat tidur harus diberi tanda tangan dengan mencntumkan nama, tanggal lahir, nomor dentifikasi.
Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu harus di cetak di catatan yang tidak mudah hilang. Sidik telapak kaki bayi harus dibuat dengan personil yang berpengalaman menerapkan cara ini, dan dibuat dalam catatan bayi. Bantalan sidik kaki harus disimpan dalam ruangan bersuhu kamar.
Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala, lingkar perut dan cacat dalam rekam medik.

Pemantauan bayi baru lahir
Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identivikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
1.      Dua jam pertama setelah lahir
Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah lahir meliputi:
ü  Kemampuan menghisap kuat atau lemah
ü  Bayi tampak aktif atau lunglai
ü  Bayi kemerahan atau biru

2.      Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya
Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut, seperti:
ü  Bayi kecil untuk masa kehamilan atau bayi kurang bulan
ü  Gangguan pernapasan
ü  Hipotermia
ü  Infeksi
ü  Cacat bawaan dan Trauma lahir

Yang Perlu Dipantau Pada Bayi Baru Lahir
ü  Suhu badan dan lingkungan
ü  Tanda-tanda vital
ü  Berat badan
ü  Mandi dan perawatan kulit
ü  Pakaian
ü  Perawatan tali pusar
Pemantauan tanda-tanda vital
ü  Suhu tubuh bayi diukur melalui dubur atau ketiak
ü  Pada pernafasan normal perut dan dada bergerak hampir bersamaan tanpa adanya retraksi, tanpa terdengar suara pada waktu inspirasi maupun ekspirasi. Gerak pernafasan 30-50 kali per menit.
ü  Nadi dapat dipantau disemua titik-titik nadi perifer
ü  Tekanan darah dipantau hanya bila ada indikasi.

Mencatat hasil pantauan merupakan salah satu cara kerja sama seluruh tim dalam membuat program perawatan. Pencegahan lebih bermanfaat dan ekonomis dari pada pengobatan.

7.      Penilaian Bayi Untuk Tanda-Tanda Kegawatan
Semua bayi baru lahir harus dinilai  adanya tanda-tanda kegawatan/kelainan yang menunjukan adanya suatu penyakit.
Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa tanda-tanda berikut:
ü  Sesak napas
ü  Frekuensi pernapasan 60 kali/menit
ü  Gerak retraksi di dada
ü  Malas minum
ü  Panas/suhu badan bayi rendah
ü  Kurang aktif
ü  Berat lahir rendah (1499-2499 gram) dengan kesulitan minum

Tanda-tanda bayi sakit berat
Apabila terdapat salah satu atau lebih tanda-tanda berikut:
ü  Sulit minum
ü  Sianosis sentral (lidah biru)
ü  Perut kembung
ü  Periode apneu
ü  Kejang atau periode kejang-kejang kecil
ü  Merintih
ü  Perdarahan
ü  Sangat kuning
ü  Berat badan lahir kurang dari 1500 gram

DAFTAR PUSTAKA
Prawiroharjo, S. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi V. PT.Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. Hal. 132-139
Alimulhidayat, Aziz. 2008. Ilmu Kesehatan Anak. Salemba Medika: Surabaya


0 komentar:

Poskan Komentar

Sabtu, 07 Mei 2011

PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR NORMAL

Diposkan oleh blog bidan aie mawar di 21:37

Pemeriksaan fisik merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas dan mendeteksi adanya penyimpangan dari normal.
Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan. Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan, melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Berbagai bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap faktor-faktor yang memperlemah kondisi seorang ibu hamil perlu diprioritaskan, seperti gizi yang rendah, anemia, dekatnya jarak antar kehamilan, dan buruknya hygiene. Disamping itu perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan prenatal yang memadai dan penanggulangan faktor-faktor yang menyebabkan kematian perinatal yang meliputi:
1.      Perdarahan
2.      Hipertensi
3.      Infeksi
4.      Kelahiran Preterm/ bayi berat lahir rendah
5.      Asfiksia
6.      Hipotermia
Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian. Misalnya sebagai akibat hipotermi pada bayi baru lahir dapat terjadi cold stress yang selanjutnya dapat menyebabkan hipoksemia atau hipoglikemia dan mengakibatkan kerusakan otak. Akibat selanjutnya adalah perdarahan otak, syok, beberapa bagian tubuh mengeras, dan keterlambatan tumbuh kembang. Contoh lain misalnya kurang baiknya pembersihan jalan napas waktu lahir dapat menyebabkan masuknya cairan lambung ke dalam paru-paru yang mengakibatkan kesulitan pernapasan, kekurangan zat asam, dan apabila hal ini berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan perdarahan otak, kerusakan otak dan kemudian keterlambatan tumbuh kembang. Tak kurang penting adalah pencegahan terhadap infeksi yang dapat terjadi melalui tali pusat pada waktu pemotongan tali pusat, melalui mata, melalui telinga, pada waktu persalinan atau pada waktu memandikan/ membersihkan bayi dengan bahan, atau cairan atau alat yang kurang bersih.
Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal merupakan periode yang paling kritis. Pencegahan asfiksia, mempertahankan suhu tubuh bayi, terutama pada bayi berat lahir rendah, pemberian air susu ibu (ASI) dalam usaha menurunkan angka kematian selama diare, pencegahan terhadap infeksi, pemantauan kenaikan berat badan dan stimulasi psikologis merupakan tugas pokok bagi pemantau kesehatan bayi dan anak. Neonatus pada minggu-minggu pertama sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu pada waktu hamil dan melahirkan. Managemen yang baik pada waktu masih dalam kandungan, selama persalinan, segera setelah dilahirkan, dan pemantaun pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya akan menghasilkan bayi yang sehat.

1.      Pengkajian Pertama Pada Bayi Baru Lahir
Pengkajian ini dilakukan di kamar bersalin setelah bayi lahir dan setelah dilakukan pembersihan jalan nafas/resusitasi, pembersihan badan bayi, dan perawatan tali pusat. Bayi ditempatkan di atas tempat tidur yang hangat. Maksud pemeriksaan ini adalah untuk mengenal/menemukan kelainan yang perlu mendapatkan tindakan segera dan kelainan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan kelahiran, misalnya; bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes melitus, eklamsia berat dan lain-lain, biasanya akan mengakibatkan kelainan bawaan pada bayi. Oleh karena itu, pemeriksaan pertama pada bayi baru lahir ini harus segera dilakukan. Hal ini ditujukan untuk menetapkan keadaan bayi dan untuk menetapkan apakah seorang bayi dapat dirawat gabung atau di tempat khusus. Dengan pemeriksaan pertama ini juga bisa menentukan pemeriksaan dan terapi selanjutnya.

2.      Tujuan Pengkajian Fisik Pada Bayi Baru Lahir
Untuk mendeteksi kelainan-kelainan. Pemeriksaan awal pada bayi baru lahir harus dilakukan sesegera mungkin sesudah persalinan untuk mendeteksi kelainan-kelainan dan menegakkan diagnosa untuk persalinan yang beresiko tinggi. Pemeriksaan hatrus difokuskan pada anomali kegenital dan masalah-masalah patofisiologi yang dapat mengganggu adaptasi kardiopulmonal dan metabolik normal pada kehidupan extra uteri. Pemeriksaan dilakukan lebih rinci dan dilakukan dalam 24 jam setelah bayi lahir.
Untuk mendeteksi segera kelainan dan dapat menjelaskan pada keluarga.
Apabila ditemukan kelainan pada bayi maka petugas harus dapat menjelaskan kepada keluarga, karena apabila keluarga menemukannya kemudian hari, akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan menganggap dokter atau petugas tidak bisa mendeteksi kelainan pada bayinya.

3.      Penilaian Klinik
Tujuannya adalah mengetahui derajat vitalitas dan mengukur reaksi bayi terhadap tindakan resusitasi. Derajat vitalitas bayi adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat esensial dan kompleks untuk berlangsungnya kelangsungan hidup bayi seperti pernapasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks- refleks primitif seperti menghisap dan mencari puting susu. Pada saat kelahiran apabila bayi gagal menunjukan reaksi vital, maka akan terjadi penurunan denyut jantung secara cepat, tubuh menjadi biru atau pucat dan refleks-refleks melemah sampai menghilang. Bila tidak segera ditangani secara tepat, cepat dan benar, keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan mungkin meninggal pada beberapa bayi mungkin pulih kembali secara spontan dalam 10-30 menit sesudah lahir, tetapi bayi ini tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat dikemudian hari.

4.      Langkah-Langkah Dalam Melakukan Pengkajian Fisik Pada Bayi Baru Lahir
F Pertama, seorang petugas mengkaji keadaan umum bayi; melihat cacat bawaan yang jelas tampak seperti hidrosefal, mikrosefali, anensefali, keadaan gizi dan maturitas, aktivitas tangis, warna kulit, kulit kering/mengelupas, vernik caseosa, kelainan kulit karena fravina lahir, toksikum, tanda-tanda metonium, dan sikap bayi tidur.
F Langkah kedua, pertugas melakukan pemerikasaan pada kulit. Ketidakstabilan vasomotor dan kelambatan sirkulasi perifer ditampakan oleh warna merah tua atau biru keunguan pada bayi yang menangis. Yang warnanya sangat gelap bila penutupan gloris mendahului tangisan yang kuat dan oleh sianosis yang tidak berbahaya.
F Pada pemeriksaan kepala bisa dilihat; besar, bentuk, molding, sutura tertutup/melebar, kaput suksedanium, hematoma – sefaldan karnio tabes.
F Pada pemeriksaan telinga dapat mengetahui kelainan daun/bentuk telinga.
F Pada pemeriksaan mata yang bisa dinilai perdarahan sukonjugtiva, mata yang menonjol, katarak, dan lain-lain.
F Mulut dapat menilai apakah bayi; labioskisis, labioynatopalatoskisis, tooth-buds, dan lain-lain.
F Leher; hematoma, duktis tirolusus, higromakoli.
F Dada; bentuk, pembesaran buah dada, pernafasan retraksi interkostal, sifoid, merintih, pernafasan cuping hidung, bunyi paru.
F Jantung; pulsasi, frekuensi bunyi jantung, kelainan bunyi jantung.
F Abdomen; membuncit, (pembesaran hati, limpa, tumor, asites), skafoid (kemungkinan bayi mengalami hernia diafragmatika atau atresia esofagis tanpa fistula), tali pusat berdarah, jumlah pembuluh darah tali pusat, warna dan besar tali pusat, hernia di pusat atau di selangkang.
F Alat kelamin; tanda-tanda hematoma karena letak sungsang, testis belum turun, fisnosis, adanya perdarahan/lendir dari vagina, besar dan bentuk klitoris dan labia minora, atresia ani.
F Tulang punggung; spina bifida, pilonidal sinus dan dumple.
F Anggota gerak; fokomeria, sindaktili, polidaktili, fraktor, paralisis talipes dan lain-lain.
F Keadaan neuramuskular; refleks moro, refleks genggam, refleks rootingdan sebagainya: tonus otot, tremor.
F Pemeriksaan lain-lain; mekonium harus keluar dalam 24 jam sesudah lahir, bila tidak harus waspada terhadap atrersia ani/obstruksi usus. Urine harus ada juga pada 24 jam. Bila tidak ada harus diperhatikan kemungkinan obstruksi saluran kencing.

Kepala Janin Dan Ukuran-Ukurannya.
Bagian yang paling keras dan besar dari janin adalah kepala janin. Posisi dan besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan. Kepala juga sering mengalami cedera, sehingga dapat membahayakan hidup. Tengkorak bayi mungkin bertumpangan (molded) terutama bila bayi adalah anak pertama dan kepala telah berfiksasi beberapa waktu. Tulang parietal cenderung menumpangi tulang oksipital dan frontal. Garis sutura dan ukuran serta tekanan kontanela anterior dan posterior harus ditentukan secara digital.

Kepala janin terdiri dari:
a)      Bagian muka
§  Tulang hidung (os nasake)Tulang pipi (oszygomaticum) ada dua buah.
§  Tulang rahang atas (os maxilare)
§  Tulang rahang bawah (os mandibularis)

b)      Bagian tengkorak
Bagian ini yang terpenting pada persalinan karena biasanya bagian tengkoraklah yang paling depan. Yang membentuk bagian tengkorak adalah:
§  Tulang dahi (os frontale) 2 buah.
§  Tulang ubun-ubun (os parletal) 2 buah.
§  Tulang pelipis (os temporale) 2 buah.
§  Tulang belakang kepala (os occipidale) 1 buah.

Yang penting dalam persalinan yaitu 7 tulang tersebut di atas. Diantara tulang-tulang tersebut terdapat sela tengkorak yang disebut sutura, yang mana ini membantu dalam persalinan.
Kalau kepala anak tertekan pada waktu kepala bergeser/bergerak di bawah kedua tulang ubun-ubun, ini salah satu tanda untuk mengenal tulang belakang kepala pada pemeriksan dalam. Sutura dan ubun-ubun penting diketahui untuk menetukan presentasi/bagian terendah dari kepala anak dalam jalan lahir.

Macam-macam sutura yang kita kenal:
1.      Sutura Sagitalis (sela panah) antara kedua ossa parletalis.
2.      Sutura Coronaria (sela mahkota) antara os frontale dan os parletal.
3.      Sutura Lambdoldea antara os occipitale dan kedua ossa parletal.
4.      Sutura Frontalis antara os frontale kiri kanan.

Ubun-ubun besar (fonticulus mayor) merupakan lubang dalam tulang tengkorak yang berbentuk segi empat dan hanya tertutup oleh selaput. Ubun-ubun besar terdapat pasa pertemuan antara 4 sutura:
1.      Sutura Sagitalis 1
2.      Sutura Coronaria 2
3.      Sutura Frontale 1

Bentuknya:
sudut depan yang runcing menunjukan bagian muka anak.
Susut belakang adalah tumpul. Ubun-ubun kecil (frontikulus minor)
Ubun-ubun kecil terdiri dari 3 sutura:
§  Sutura Lambdoldea 2 buah
§  Sutura Sagitalis 1 buah

Tulang ubun-ubun ini baru akan tertutup nanti pada anak usia 1,5 – 2 tahun.

Ukuran-ukuran kepala bayi:
A.    Ukuran muka belakang:
1.      Diameter sub occipitalus-bregmatica dari foramen magnum ke ubun-ubun besar 29,5 cm.
2.      Diameter sub occipito frontalis: (dari foramen magnum ke pangkal hidung).11 cm.
3.      Diameter fronto occipitalis (dar pangkal hidung ke titik yang terjadi pada belakang kepala. 12 cm.
4.      Diameter mento occipitalis (dari dagu ke titik yang terjauh pada belakang kepala).  13,5 bertugas.
5.      Diameter sub mento bragmatika (dari bawah dagu ke ubun-ubun besar)  9 cm.

B.     Ukuran lingkaran:
1.      Circumferentia sub occiput bregmatika. (lingkaran kecil kepala) 31 cm.
2.      Circumferentia fronto occipitalis (lingkaran sedang kepala)  34 cm.
3. Circumferentia mento occipitalis (lingkaran besar kepala). 35 cm.

Prinsip pemeriksaan bayi baru lahir:
ü  Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
ü  Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
ü  Pastikan pencahayaan baik
ü  Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat
ü  Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh

5.      Prosedur
  1. Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan pemeriksaan
  2. Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik, faktor lingkungan, sosial,faktor ibu (maternal),faktor perinatal, intranatal, dan neonatal
  3. Susunalat secara ergonomis
  4. Cuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir, keringkan dengan handuk bersih
  5. Memakai sarung tangan
  6. Letakkan bayi pada tempat yang rata
Pengukuran Anthopometri
  1. Penimbangan berat badan.
Letakkan kain atau kertas pelindung dan atur skala penimbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus bayi
  1. Pengukuran panjang badan
  2. Letakkan bayi di tempat yang datar.
Ukur panjang badan dari kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan. Alat ukur harus terbuat dari Ukur lingkar kepala. Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari kepala kembali lagi ke dahi.
  1. Ukur lingkar dada. ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu)

6.      Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir, ialah:      
ü  Membersihkan jalan nafas
ü  Memotong dan merawat tali pusat
ü  Mempertahankan suhu tubuh bayi
ü  Identifikasi
ü  Pencegahan infeksi
Pembersihan jalan napas, perawatan tali pusat, perawatan mata dan identifikasi adalah rutin segera dilakukan, kecuali bayi dalam keadaan kritis, dan dokter memberi intruksi khusus.
Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan napas dengan cara sebagai berikut:
ü  Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat
ü  Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang
ü  Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril
ü  Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi segera menangis.
¯  Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan otak . Sangat penting membersihkan jalan napas, sehingga upaya bayi bernapas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (Masuknya lendir ke paru-paru).
F Alat pengisap lendir mulut (DeLee) atau alat pengisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selngnya harus telah siap di tempat.
F Segera lakukan usaha mengisap mulut dan hidung
F Petugas harus memantau dan mencatat usaha napas yang pertama
F Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan
¯  Bantuan untuk memulai pernapasan mungkin diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat
F Dokter atau tenaga medis lain hendaknya melakukan pemompaan bila setelah 1 menit bayi tak bernapas.

Memotong dan Merawat Tali Pusat
Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu menemukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong untuk memudahan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi perdarahan dapat dibuat ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% atau podivon iodin 10% serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari dan atau setiap tali basah atau kotor.
Sebelum memotong tali pusat, dipastikan  bahwa tali pusat telah di klem dengan baik, untuk mencegah terjadinya perdarahan. Membungkus ujung potongan tali pusat adalah kerja tambahan.
ü  Alat pengikat tali pusat tau klem harus selalu siap tersedia di ambulans, di kamar bersalin, ruang penerima bayi dan ruang perawatan bayi.
ü  Gunting steril juga siap
ü  Pantau kemungkinan terjadinya perdarahan dari tali pusat.

Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus di catat.

Memberi Vitamin K
Kejadian perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir dilaporkan cukup tinggi, berkisar 0,25-0,5%. Untuk ,mencegah terjadinya perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5-1 mg I.M.

Memberi Obat tetes/ salep mata
Dibberapa negara perawatan mata bayi baru lahir secara hukum diharuskan untuk mencegah terjadinya oftalmia neonatorum. Di daerah mana prevalensi gonorea tinggi, setiap bayi baru lahir perlu diberi salep mata sesudah 5 jam bayi lahir. Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual).
ü  Perawatan mata harus dikerjakan segera. Tindakan ini dapat dikerjakan setelah bayi selesai dengan perawatan tali pusat dan harus dicatat di dalam status termasuk obat apa yang digunakan.
ü  Yang lazim dipakai adalah larutan Perak Nitrat atau Neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah bayi lahir.
¯  Peralatan untuk perawatan mata harus siap diruang penerimaan/ persali nan, ruang rawat bayi, termasuk:
·         Obat-obatan
·         Perlengkapan berisi:
a.       Alat tetes mata
b.      Gelas obat kecil steril dan kapas
·         Cairan NaCl untuk irigasi mata (bila yang dipakai Perak Nitrat)
¯  Perubahan warna dari cairan penetes baru telah terjadi perubahan kimia, sehingga tak dapat dipakai lagi.
·         Petugas hendaknya secara rutin meneliti terjadinya perubahan warna pada cairan obat yang dipakai atau adanya kristal yang timbul yang mungkin terjadi apabila suhu ruangan melebih 34°C.

Identifikasi bayi
Apabila bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinanya mungkin lebih dari satu persalinan, maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus tetap di tempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
ü  Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia ditempat penerimaan pasien, di kamar bersalin, dan di ruang rawat bayi.
ü  Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah melukai, tidak mudah sibuk , dan tidak mudah lepas.
ü  Pada alat/gelang identifikasi harus tercantum:

§  Nama,(bayi, nyonya)
§  Tanggal lahir,
§  Nomor bayi,
§  Jenis kelamin,
§  Unit,
§  Nama lengkap ibu


ü  Di setiap tempat tidur harus diberi tanda tangan dengan mencntumkan nama, tanggal lahir, nomor dentifikasi.
Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu harus di cetak di catatan yang tidak mudah hilang. Sidik telapak kaki bayi harus dibuat dengan personil yang berpengalaman menerapkan cara ini, dan dibuat dalam catatan bayi. Bantalan sidik kaki harus disimpan dalam ruangan bersuhu kamar.
Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala, lingkar perut dan cacat dalam rekam medik.

Pemantauan bayi baru lahir
Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identivikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
1.      Dua jam pertama setelah lahir
Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah lahir meliputi:
ü  Kemampuan menghisap kuat atau lemah
ü  Bayi tampak aktif atau lunglai
ü  Bayi kemerahan atau biru

2.      Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya
Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut, seperti:
ü  Bayi kecil untuk masa kehamilan atau bayi kurang bulan
ü  Gangguan pernapasan
ü  Hipotermia
ü  Infeksi
ü  Cacat bawaan dan Trauma lahir

Yang Perlu Dipantau Pada Bayi Baru Lahir
ü  Suhu badan dan lingkungan
ü  Tanda-tanda vital
ü  Berat badan
ü  Mandi dan perawatan kulit
ü  Pakaian
ü  Perawatan tali pusar
Pemantauan tanda-tanda vital
ü  Suhu tubuh bayi diukur melalui dubur atau ketiak
ü  Pada pernafasan normal perut dan dada bergerak hampir bersamaan tanpa adanya retraksi, tanpa terdengar suara pada waktu inspirasi maupun ekspirasi. Gerak pernafasan 30-50 kali per menit.
ü  Nadi dapat dipantau disemua titik-titik nadi perifer
ü  Tekanan darah dipantau hanya bila ada indikasi.

Mencatat hasil pantauan merupakan salah satu cara kerja sama seluruh tim dalam membuat program perawatan. Pencegahan lebih bermanfaat dan ekonomis dari pada pengobatan.

7.      Penilaian Bayi Untuk Tanda-Tanda Kegawatan
Semua bayi baru lahir harus dinilai  adanya tanda-tanda kegawatan/kelainan yang menunjukan adanya suatu penyakit.
Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa tanda-tanda berikut:
ü  Sesak napas
ü  Frekuensi pernapasan 60 kali/menit
ü  Gerak retraksi di dada
ü  Malas minum
ü  Panas/suhu badan bayi rendah
ü  Kurang aktif
ü  Berat lahir rendah (1499-2499 gram) dengan kesulitan minum

Tanda-tanda bayi sakit berat
Apabila terdapat salah satu atau lebih tanda-tanda berikut:
ü  Sulit minum
ü  Sianosis sentral (lidah biru)
ü  Perut kembung
ü  Periode apneu
ü  Kejang atau periode kejang-kejang kecil
ü  Merintih
ü  Perdarahan
ü  Sangat kuning
ü  Berat badan lahir kurang dari 1500 gram

DAFTAR PUSTAKA
Prawiroharjo, S. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi V. PT.Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. Hal. 132-139
Alimulhidayat, Aziz. 2008. Ilmu Kesehatan Anak. Salemba Medika: Surabaya


0 komentar on "PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR NORMAL"

Poskan Komentar